Jumat, 28 Juni 2013

ANAK SEBAGAI AMANAH DAN AKIBAT menelantarkannya



Oleh: Ustaz Imron Baehaqi MA

Dalam Alquran, anak dapat dikelompokkan menjadi lima tipologi, yaitu anak sebagai tes (QS. Al-Anfal [8]: 28), anak sebagai perhiasan hidup dunia (QS. Al-Kahfi [18]: 46), anak sebagai cahaya mata ( QS. Al-Furqan [24]: 74), anak sebagai musuh (QS. At-Taghabun [64]: 14) dan anak sebagai amanah (QS.At-Tahrim [66]: 6).

Hubungannya dengan tugas dan kewajiban orangtua, maka tipologi di atas menunjukkan besarnya peran dan tanggung jawab orang tua (ibu dan bapak) dalam mengasuh dan mendidik anak, terutama agamanya sehingga terbentuk sebuah keturunan yang ideal (zurriyah thayyibah) atau anak saleh.

Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, mereka tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. "(QS. At-Tahrim [66]: 6).

Dalam hadis sahih yang sudah begitu populer, Rasulullah SAW menegaskan, "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Kepala Negara adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab terhadap nasib rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin di dalam rumah tangganya dan dia bertanggung jawab terhadap keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab terhadap rumah tangganya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta benda majikannya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. "(HR. Muttafaqun 'Alaih).

Intinya, anak merupakan bagian dari amanah Allah, di mana kalangan orangtua tidak diperkenankan melalaikannya, apalagi lari dari memikul amanah besar tersebut.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat keras terhadap orangtua yang lari dari tanggung jawab ini. "Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang tidak akan diajak berbicara pada hari kiamat, tidak disucikan dan tidak terlihat." Lalu beliau ditanya: "Siapa mereka itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Anak yang berlepas diri dari orangtuanya dan membencinya serta orangtua yang berangkat diri dari anaknya. "(HR. Ahmad dan Thabrani).

Imam Ibn Qayyim al-Jauziyah pernah mengatakan, "Barang siapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi anaknya dan menelantarkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orangtua yang meninggalkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama termasuk sunnah-sunnahnya. "

Di zaman sekarang ini, orang tua pada umumnya nampak tidak mengalami banyak kesulitan dalam menyekolahkan putra-putrinya, khususnya dari segi peluang. Lembaga pendidikan sekolah dan pesantren banyak berdiri di hampir merata tempat, pemerintah dan 
lembaga swasta pun banyak yang menyediakan beasiswa pendidikan. Banyak yang memperoleh semua kesempatan itu. Akan tetapi, tidak sedikit orang tua yang lepas kontrol, bahkan ada yang sama sekali tidak peduli terhadap bimbingan agama dan karakter kepribadian anaknya. Akibatnya, terjadi kerusakan pada diri anak yang ditandai dengan sifat dan perilaku yang tidak terpuji. Nauzubillahi min dzalik.

Oleh sebab itu, agar dapat dianugerahi keturunan yang baik, baik dari segi intelektualitas maupun moralitas, maka ada sejumlah ayat alQuran yang penting untuk dibaca dan diamalkan. Setidaknya setelah shalat wajib lima waktu. Di antaranya adalah surah Ali Imran ayat 38 sebagaimana berikut,

"Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengabulkan do'a." (QS. Ali Imran [3]: 38). Wallahu al-Musta'an.



Sumber: www.republika.co.id

MEMINTA AKHIRAT



Oleh: Zainal Arifin


Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW melihat semangat dan kesungguhan Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslami dalam membantu dan melayani kebutuhan beliau, Rasulullah bersabda, "Mintalah kepadaku wahai Rabi'ah! Niscaya aku akan memberimu. "

Mendengar tawaran itu, Rabi'ah lalu menjawab, "Aku akan berpikir dahulu wahai Rasulullah! Nanti aku akan memberitahukannya kepadamu. "

Maka, Rabi'ah pun berpikir apa yang akan ia minta dari sang kekasih Allah tersebut. Sudah barang tentu semua yang dipinta dapat dipenuhi Rasulullah, baik itu urusan yang bersifat dunia maupun urusan akhirat kelak. Karena, Rasulullah sangat dimuliakan Allah SWT sehingga doa dan permintaannya akan dikabulkan. Dalam benak Rabi'ah, jika ia meminta dunia, itu sungguh sesuatu yang hanya bersifat sementara. Semua yang ada di dalamnya fana dan pasti akan lenyap dalam sekejap mata. Dan sesungguhnya selama hidup di dunia ini, Allah telah memberikan rezeki yang cukup dan selalu mendatangi siapa pun hamba-Nya yang membutuhkan.

Setelah merenung dan terus memikirkannya, Rabi'ah mencapai suatu tekad untuk meminta akhirat. Ia menemui Rasulullah untuk menyampaikan permintaannya. Tatkala Rasulullah didatangi Rabi'ah, beliau bertanya, "Apakah yang telah kamu perbuat wahai Rabi'ah?"

Rabi'ah Menjawab, "Wahai Rasulullah, aku meminta kepadamu agar engkau sudi memberi syafaat kepadaku di sisi Rabbmu, agar Dia membebaskanku dari api neraka." Mendengar permohonan Rabi'ah itu, Rasulullah kembali bertanya, "Siapakah kiranya yang telah menyuruhmu untuk meminta hal ini? "

Rabi'ah menjelaskan, tidak ada seorang pun yang menyuruhnya meminta demikian. Permintaan itu lahir setelah ia berpikir dan merenungi jika segala yang ada di dunia ini hanyalah bersifat sementara.Rabi 'ah hanya meminta Rasulullah yang kedudukannya begitu mulia di sisi Allah, berkenan mendoakannya agar selamat di akhirat yang abadi.

Mendengar penjelasan Rabi'ah, Rasulullah berdiam sejenak lalu bersabda, "Aku akan memenuhi permintaanmu, bantulah aku atas dirimu dengan engkau banyak-banyak bersujud (banyak melakukan shalat)." (Sebagaimana diriwayatkan oleh sang pelaku sejarah Imam Ahmad bin Hanbal).

Subhanallah ... itulah yang dipinta Rabi'ah ketika mendapat kesempatan emas. Seandainya ia meminta jabatan, harta, dan kesenangan dunia, pasti Rasulullah tetap berupaya memberikannnya. Sebaliknya, kesempatan emas yang belum tentu didapatkan setiap manusia itu, Rabi'ah gunakan untuk mempersiapkan kehidupannya di akhirat.

Ia meminta agar selamat dari api neraka dan menikmati indahnya surga yang abadi. Demikianlah jika kita yang mengaku sebagai umat Rasulullah, jika ada tawaran dari pemimpin kita atau dari siapa pun yang bersifat duniawi bahkan penuh dengan konspirasi. Seharusnya kita menolak tanpa ragu.Sungguh, segala kenikmatan di dunia ini, sejatinya banyak berupa jebakan setan, yang dapat menjerumuskan umat manusia ke dalam neraka. Mari berhati-hati dan selalu meminta keselamatan akhirat yang abadi.

Sumber: www.republika.co.id

4 MACAM HATI


Foto: kesunyian adalah  bukanlah kesepian hati,dikala fikiran melayang membayangkan mati,seakan semua kebahagiaan bukanlah tujuan.hanya penyesalan yang terhampar luas di dalam bayangan. mengapa kebaikan tidak ada dalam fikiran sejak dahulu kala.  ternyata selama hayat ibadah tak mencukupi untuk mengimbangi kenikmatan yang telah ternikmati .  sungguh besar kemurahan Allah


Sebuah ayat al-Quran yang mengandung doa menuturkan, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah rahmat dari sisiMu kepada kami, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." (QS. Ali Imran [3 ]: 8).

Konten doa ayat di atas tidaklah diucapkan dan dilakukan kecuali oleh orang-orang yang akal dan hatinya bersih (Ulil Albab). Mereka bermunajat dengan harapan dan tujuan agar hatinya tetap berada dalam proteksi hidayah Allah dan terjaga dari berbagai macam jalan yang menyesatkannya. Oleh sebab itu, sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menunjukan tentang pentingnya posisi hati di antara unsur jasmani dan materi lainnya.

Sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kamu sekalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amalmu yang ikhlas." (HR. Muslim).

Menurut riwayat dari Abi Sa'id RA, ada empat macam hati yang disebutkan oleh baginda Rasulullah SAW. Hadits ini bisa ditemukan juga dalam sebuah buku yang berjudul Kitab al-Kabair, karangan Syeikh Imam Abi al-Hasan Muhammad bin Abdul Wahab.

Pertama, Qalbun Ajrad (hati yang murni), yaitu hati laksana lentera yang memancarkan cahaya. Hati ini membuka pintu-pintunya untuk mendengar dan menerima kebenaran (alhaq). Itulah hati orang-orang Mukmin yang melakukan ketaatan kepada Allah dan RasulNya secara konsisten. Jenis hati ini disebut juga sebagai Qalbun Shaleh (hati yang sehat).

Kedua, Qalbun Aghlaf, hati yang keras dan tertutup untuk menerima kebenaran dan petunjuk dari Allah. Ia disebut juga sebagai QOLBUN Mayyit (hati yang mati) karena tidak mengenal dan mengakui Allah sebagai Tuhannya. Ketika diseru pun ke jalanNya, maka seruan itu tidak bermanfaat sama sekali karena hatinya sudah tertutup. (QS. Al-An'am [6]: 25). Tidak lain, jenis hati ini adalah hatinya orang-orang kafir.

Ketiga , Qalbun Mankus (hati yang terbalik). Yaitu hati orang-orang munafik. Hati ini sebetulnya mengetahui kebenaran Islam sebagai agama samawi, akan tetapi ia berbuat inkar. Bahkan ia memusuhi dan menghalang-halangi orang lain untuk mengikuti kebenaran tersebut.Kempat Qalbun Mushaffah. Yaitu, hati yang di dalamnya ada dua unsur sekaligus, keimanan dan kemunafikan. Kedua unsur ini saling tarik-menarik sehingga terkadang hati tersebut miring dan dekat kepada keimanan dan terkadang kepada kekufuran, tergantung kepada salah satu yang mendominasinya.

Jenis hati ketiga dan kempat ini disebut Qalbun Maridh (hati yang sakit) karena ada penyakit atau virus yang menyerangnya, yaitu berupa fitnah syahwat (nafsu) dan shubhat (sikap ragu) dengan motivasi setan yang terkutuk. Sebagai bahan muhasabah diri, masing-masing di antara kita dapat mengetahui secara jujur ​​dan objektif, tipe hati manakah yang sebenarnya kita miliki dari keempat macam hati di atas.

Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang memiliki tipe hati yang pertama, yaitu hati yang murni dan sehat. Di antara kuncinya adalah mengamalkan do'a yang diajarkan al-Quran, sebagaimana disebutkan di atas. Wallahu alMusta'an.



Sumber: www.republika.co.id

PHOTO : SAINYAU
https://fbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/p480x480/945236_577380302283827_1384495266_n.jpg

PENTINGKAH ZIARAH KUBUR? | Rumah Zakat






Ziarah kubur menjelang Ramadhan dan Idul Fitri merupakan tradisi yang baik dilakukan. Dengan ziarah kubur, orang diingatkan tentang kematian. Rasulullah bersabda: Aku mohon izin kepada Tuhanku untuk meminta ampun bagi ibuku, namun tidak diperkenankan. Lantas kumohon izin untuk menziarahi kuburannya, maka diperkenankan-Nya bagiku. Karena itu, berziarahlah kalian ke kuburan, karena hal itu bisa mengingatkan kalian akan kematian.



Fenomena kematian adalah tarbiyah ruhaniyah (pendidikan rohani) yang efektif untuk meningkatkan tingkat moralitas keagamaan seseorang. Ini, karena dengan mengingat kematian, seseorang akan berpikir seribu kali bila ingin berbuat maksiat. Orang gampang korupsi, bertindak sewenang-wenang, tiranik, serakah, mau menang sendiri, suka menyakiti orang lain, misalnya, karena tiadanya kesadaran akan kematian.

Itulah sebabnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz selalu berupaya mengingat tentang fenomena kematian itu. Hampir setiap malam dia kupulkan para ulama untuk bermudzakarah (saling mengingatkan) tentang mati, kiamat, dan akhirat. Kemudian mereka menangis sesenggukan tampaknya jenazah hadir di tengah-tengah mereka. Kuburan, tempat jenazah dimakamkan, adalah saksi bisu dari kematian. Sabda Rasulullah saw, "Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat." (HR Thabarani dan Baihaqi).

Dengan demikian, maka kuburan menjadi semacam tugu peringatan bagi orang yang mudah lalai akan kematian. Hadis riwayat Imam Muslim yang dikutip pada awal tulisan ini mengingatkan kepada kita bahwa dengan ziarah kubur kita senantiasa diingatkan tentang adanya kehidupan lain setelah kehidupan ini. Dan orang yang masih hidup namun menyadari akan kematian, sama halnya dengan orang yang piawai dalam membaca trend masa depan, yang karenanya tidak kaget lagi, dan cakap dalam mengelola dunia ini. Karena memang kehidupan yang sekarang adalah rentetan dari kehidupan lain yang akan dilakoni manusia. Dan kematian hanya pemberhentian sementara dari pekerjaan yang bakal kita lalui itu.

Ziarah kubur sebenarnya bisa dilakukan tidak saja tiap menjelang Ramadhan dan Idul Fitri seperti yang sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita, namun bisa dilakukan kapan saja. Nabi Muhammad saw menyatakan: Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orangtuanya atau salah satu darinya tiap Jumat, maka dosanya diampuni dan ditulis sebagai orang yang berbuat kebajikan. "(HR Baihaqi).

Maka, makna positif dari ziarah kubur tidak saja pada almarhum atau almarhumah yang didoakan, tapi juga bagi kita buat mempertajam kesadaran akan mati. Di tengah krisis dan banyak tantangan yang dihadapi sekarang ini, sugesti dari keyakinan akan mati ini layak diaktifkan. Karena keinsyafan ini bisa memompa semangat dan optimisme. "Barangsiapa yang menyadari akan kematian, maka segenap musibah dan kekhawatiran dunia akan terasa kecil baginya," jelas Ka'ab seperti yang dikutip oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin.

Sumber: www.republika.co.id

PHOTO :  SAINYAU

KENIKMATAN YANG MENGHANCURKAN ..................ISTIDRAJ







Oleh: Dr Ahmad Kusyairi Suhail, MA


Jika ada di antara kita, saat ini bergelimang banyak harta dan kemewahan atau meraih tahta dan menduduki jabatan bergengsi, jangan buru-buru mengucapkan Alhamdulilah, sebagai ungkapan syukur. Melainkan hendaknya, ia berkaca diri dan intropeksi. Sebab, ketika semua itu didapat dari korupsi, suap atau cara-cara ilegal lainnya, semua kemewahan dunia dan jabatan yang nyaman itu bukanlah ni'mah (nikmat) yang harus disyukuri, melainkan justru merupakan niqmah (malapetaka) yang harus diwaspadai.

Dalam terminologi syar'i (Islam) hal ini disebut dengan istidraj. Sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Uqbah bin 'Aamir RA, "Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba kelimpahan dunia atas maksiat-maksiatnya, apa yang ia suka, maka ingatlah sesungguhnya hal itu adalah istidraj".

Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat 44 dari QS Al An'aam [6], yang artinya "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa "(HR Ahmad no. 17349 dan dishahihkan Al Albani di As Silsilah Ash Shahihah no. 414).

Hadits dan ayat di atas garis sunnatullah dalam kehidupan pendosa dan pelaku maksiat. Terkadang Allah SWT membukakan beragam pintu rizki dan pintu kesejahteraan hidup serta kemajuan dalam banyak aspek kehidupan seperti termaktub dalam redaksi ayat di atas, "Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka". Bisa berbentuk kemajuan di bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, militer, kesehatan, kebudayaan, stabilitas keamanan dan lain sebagainya. Ini adalah istidraj (mengulur-ulur) dan imlaa '(penangguhan) dari Allah bagi mereka sebagaimana firman Allah, "Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh "(QS Al Qalam [68]: 44-45).

Jadi, ketika ada orang yang tidak shalat, tidak puasa Ramadhan, hidup dalam kubangan maksiat, namun hidupnya makmur, sejahtera dan bergelimang banyak kemewahan, ini adalah istidraj. Ketika ada kelompok atau organisasi menghidupi kelompok dan organisasinya dengan uang haram, tapi kelihatannya tambah maju dengan semakin bertambah banyaknya anggota dan pendukungnya serta semakin meluasnya pengaruh dan cabang-cabangnya, ini pun termasuk istidraj. Ketika seseorang meraih pangkat dan jabatan atau kemenangan dengan cara-cara yang zhalim dan menghalalkan segala cara, sesungguhnya hal ini juga istidraj.

Demikian pula, kalau ada negara yang kufur kepada Allah, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, melegalkan beragam bentuk maksiat, memerangi orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, membatasi atau melarang berbagai aktifitas dakwah , namun secara zhahir tampak maju di beragam aspek kehidupan, hal ini masuk katagori istidraj.

Begitu bahayanya istidraj, sampai-sampai Umar bin Khaththab ra pernah berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu menjadi mustadraj (orang yang ditarik dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan)" (Al Umm, Imam Sayfi'i, IV / 157). Maka, waspadalah terhadap istidraj, karena ia adalah kenikmatan yang membinasakan. Na'udzbillahi min dzalik.



Sumber: www.republika.co.id

PHOTO:  SAINYAU


BIBLIOTERAPI | Rumah Zakat



kitab-suci-alquran-ilustrasi-_rumahzakat



Oleh: Muhbib Abdul Wahab

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. "(QS Al-Alaq [96]: 1-3).

Hanya Islam, satu-satunya agama di dunia ini, yang perintah pertama adalah membaca. Dalam bahasa Arab, kata iqra mengandung arti: menghimpun (informasi, data, pengetahuan, wawasan), meneliti, memahami, menganalisis, membaca, dan memaknai. Karena itu, perintah tersebut tidak harus dimaknai hanya sekedar membaca (melafalkan simbol-simbol bunyi dalam bentuk tulisan), melainkan harus dipahami dalam arti generiknya yang luas tersebut. Dengan demikian, perintah iqra 'berarti juga perintah meneliti, mengembangkan sains dan teknologi, serta mengkaji dan memahami persoalan secara akademik-ilmiah.

Membaca adalah sendi tegaknya kehidupan dan peradaban manusia. Membaca tidak hanya bermanfaat bagi siapapun yang haus informasi, tetapi kini juga dapat difungsikan sebagai terapi (pengobatan). Iqra 'bukan hanya menjadi terapi kebodohan, tetapi juga terapi berbagai penyakit, terutama psikosomatik. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Mesir, kini sedang dikembangkan terapi dengan membaca (al-'ilaj tagihan qira'ah) atau biblioterapi.

Di Florida Amerika Serikat, pernah dilakukan ujicoba penggunaan bacaan Al-Qur'an terhadap lima relawan nonmuslim dalam proses terapi penyakit mereka. Riset eksperimen itu membuktikan bahwa 97 persen bacaan Alquran dapat menormalkan fungsi syaraf dan menurunkan ketegangan jiwa, membuat suasana hati menjadi lebih rileks, meskipun mereka tidak memahami bahasa Arab (isi Alquran), apalagi jika mereka memahami isi dan pesannya.

Biblioterpi sebenarnya sudah dimulai pada abad ketiga belas di rumah sakit al-Manshur di Kairo. Selain diberi obat yang sesuai dengan jenis penyakitnya, para pasien saat itu juga diberi terapi berupa bacaan ayat-ayat Alquran. Hasilnya sangat positif; selain memberi sugesti positif, mereka merasakan kedamaian hati, sehingga memperoleh kesembuhan yang lebih cepat. Biblioterapi di beberapa rumah sakit di Eropa juga dikembangkan dalam bentuk musik. Pasien dibuat rileks dengan mendengarkan musik-musik religius, sehingga beban psikologis berupa rasa sakit berkurang.

Dalam karyanya, al-'Ilaj bi al-Qira'ah (terapi dengan membaca), Dr. Sya'ban Khalifah menyatakan rumah-rumah sakit Islam sudah saatnya mengembangkan biblioterapi sebagai bagian dari proses penyembuhan berbagai penyakit, terutama penyakit jiwa. Selain diberi bacaan religius yang harus dibaca sebelum maupun sesudah proses pengobatan, kepada para pasien harus diperdengarkan secara periodik alunan ayat-ayat Alquran.

Dokter dalam hal berperan penting untuk membuat pasien merasa yakin (iman) bahwa ayat-ayat yang didengar atau dibaca sendiri secara langsung dapat membantu proses terapi. Biblioterapi, menurut Sya'ban Khalifah, memang sesuai dengan firman Allah: "Dan Kami turunkan Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman ..." (QS Al-Isra '[17]: 82).

Dalam konteks ini, Umar bin al-Khaththab pernah menyatakan: "Siapa yang tidak berterapi dengan Alquran, maka Allah tidak akan memberi kesembuhan. Dan siapa yang tidak merasa cukup dengan Alquran, maka Allah tidak akan memberikan kecukupan kepadanya. "

Jadi, selama dikaitkan dengan nama Allah (bismi rabbik), membaca itu ternyata tidak hanya baik untuk mencerdaskan umat, tetapi juga menyembuhkan aneka penyakit, termasuk penyakit korupsi. Calon koruptor bisa jadi mengurungkan niatnya untuk korupsi, jika di tempat kerjanya dibacakan ayat-ayat suci yang menjelaskan hukuman potong tangan bagi pencuri dan ayat-ayat lainnya yang membuat spiritualitas dan moralitas mereka mampu meredam syahwat korupsi. Wallahua'lam bish shawab!



Sumber: www.republika.co.id

CAT: INSPIRASI ON JUNE 27, 2013

BIPOLAR, GANGGUAN KEJIWAAN YANG BISA DIKENDALIKAN | Rumah Zakat






93Kepribadian_Ganda_Karena_Terganggunya_Otak



Anda pasti kenal Ludwig van Beethoven, komponis asal Jerman yang hidup antara tahun 1770–1827. Namun, tahukah Anda? Sang maestro musik klasik ini penderita gangguan kejiwaan bipolar hingga beberapa kali menyatakan ingin bunuh diri. Tidak hanya Beethoven, beberapa tokoh terkenal ternyata mengidap kelainan ini. Sebut saja pelukis Van Gogh, ahli fisika Isaac Newton dan mantan Presiden Amerika ke-16 Abaraham Lincoln.
Di Indonesia, belum banyak data mengenai pengidap bipolar. Mungkin karena informasi mengenai penyakit ini belum tersebar luas. Lagipula, banyak orang tidak sadar terkena bipolar. Salah satu penyebabnya, kata Kepala Departemen Psikiatri FKUI/RSCM dr A A A Agung Kusumawardhani, SpKJ (K), sulit mendiagnosis karena gejalanya berubah-ubah dan mirip skizofrenia. Akibatnya, sering terjadi keterlambatan diagnosis yang dapat memakan waktu sampai sepuluh tahun.

CIRI DAN TIPE
Bipolar merupakan gangguan jiwa yang bersifat kronik, serius dan berpotensi mengakibatkan kematian. Ciri utama penyakit ini, perubahan suasana hati (mood) secara ekstrem dari gembira secara berlebihan ke kesedihan yang mendalam (depresi). Gangguan ini sering kambuh dan biasanya berlangsung seumur hidup.
Orang dengan bipolar (ODB) memiliki memiliki indeks angka kematian lebih tinggi 2 sampai 3 kali lipat dibanding skizofrenia. Sebanyak 30% ODB melakukan percobaan bunuh diri dan 10-20% dari mereka meninggal. Angka bunuh diri pada ODB laki-laki dan perempuan 0,4% per tahun.
Ada lima fase perubahan mood yang bisa terjadi sangat cepat pada ODB, di antaranya depresi, manik/mania, campuran, eutimia(normal), dan hipomanik (lebih ringan dari mania). Ketika ODB mengalami depresi, perasaan bersalah, tidak berharga dan putus asa, membuatnya mendapat ide bunuh diri. Pada kondisi sebaliknya, mania, ia akan merasa percaya diri, hiperaktif, jalan pikiran yang meloncat (flight of ideas), banyak bicara, dan seperti tidak membutuhkan tidur. Fase campuran juga bisa dialami ODB, yaitu ketika depresi dan mania terjadi bersamaan.
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), terdapat empat tipe gangguan bipolar (GB) yaitu GB I, GB II, Bipolar Disorder Not Otherwise Specified (BP-NOS), dan Cyclothymia. GB I merupakan bentuk GB yang cukup berat. Biasanya diawali dengan depresi mayor dan setidaknya ada satu episode mania yang berat. Depresi mayor adalah mood depresi yang berlangsung selama 3-6 bulan.
Sedang GB II merupakan bentuk GB yang tidak terlalu berat. Biasanya terjadi episode depresi yang singkat (mayor) diselingi dengan hipomania. Namun tidak ada episode mania atau campuran.Sementara BP-NOS ditandai dengan gejala-gejala bipolar tapi tidak memenuhi kriteria GB spesifik. Cyclothymia muncul periode mania dan depresi yang tidak terlalu berat. Berlangsung hanya beberapa hari dan kambuh dalam selang waktu yang tidak beraturan.

PENYEBAB
Bipolar kerap diidap oleh masyarakat perkotaan. “Karena masyarakat perkotaan cenderung lebih sering terpapar kondisi-kondisi pencetus stres,” ujar dr Handoko Daeng, SpKJ (K), Ketua Seksi Bipolar PDSKJI. Namun, bukan berarti masyarakat yang tinggal di pedesaan tidak bisa terkena bipolar. Menurut Prof Dr dr Tuti Wahmurti A S, SpKJ (K), Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), siapa saja yang tidak bisa menerima realitas hidup akan stres berkepanjangan dan mengidap bipolar.
Penyebab terjadinya gangguan bipolar (GB) bersifat multifaktor, mencakup genetik, biologi otak, serta peristiwa-peristiwa kehidupan dan keadaan lingkungan (psikososial) yang menimbulkan stres. “Faktor genetik menyebabkan seseorang rentan, dan bila ia mengalami stres psikososial dan tidak bisa mengatasinya, terjadilah GB,” tegas Prof Tuti.
Tubuh manusia selalu beradaptasi sesuai rangsangan yang dialaminya. Jika seseorang mengalami stres psikososial, terjadi perubahan sistem hormonal, yang kemudian memengaruhi zat kimia alami, sel syaraf, dan zat penting lainnya dalam otak. Menjadi tugas gen untuk mengatasi kondisi ini, yakni mengatur keseimbangan tubuh. “Namun, mereka yang mempunyai gen lemah tidak mampu menjaga keseimbangan tubuh sehingga terjadi kekacauan dalam sistem dan terjadilah GB,” tutur Prof Tuti. Bila sudah terjadi tanda-tanda GB, pasien harus dibawa ke dokter ahli atau psikiater. Dokter akan memberikan obat untuk menyetabilkan mood. “Namun, pemakaian obat tersebut harus dengan petunjuk dokter agar tidak overdosis,” tambah dr Handoko.

PENANGANAN TEPAT
Bagi mereka yang didiagnosa mengalami GB, tak perlu khawatir berlebihan. Dengan penanganan yang tepat GB bisa dikendalikan. Dukungan keluarga juga sangat dibutuhkan pada pasien. Penerimaan dari orang sekitar akan melahirkan kehangatan dan kenyamanan pada penderita dan mendorong mereka untuk sembuh. Pengobatan pada GB secara langsung terkait pada fase episodenya. Jika sedang mengalami depresi ekstrem dan menunjukkan perilaku bunuh diri, maka diperlukan rawat inap. Apabila depresi masih ringan dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari, maka bisa diobati dengan rawat jalan.
Kesadaran ODB akan penyakitnya sangat membantu pengontrolan dirinya. Ini supaya saat sedang depresi, ODB bisa segera meminum obat penenang atau meminta pertolongan keluarga atau orang terdekat. Jangan lupakan juga, sebagai keluarga Muslim, untuk senantiasa hidup dekat dengan Al-Qur’an. Mengapa? Sebab, Al-Qur’an menjadikan hidup senantiasa tenang. Al-Qur’an mampu memberikan jawaban-jawaban dari segala permasalahan hidup ini. Jika kita sebagai manusia merasa tidak kuat menerima problematika kehidupan ini, maka tawakal pada Allah sebagai hasil pembelajaran dari Qur’an menjadikan jiwa dan pikiran menjadi lebih ringan. Insya Allah.

Sumber : www.ummi-online.com
Foto : www.ummi-online.com


Mengenai Saya

Foto saya
jombang, jawa timur, Indonesia
TEREKADANG ORANG MERASA PERCUMA NGOMONG DENGAN SIAPAPUN, KARNA TERBAWA OLEH PERASAAN PESIMIS. SEHINGGA MERASA APAPUN YANG DILAKUKAN ADALAH PERCUMAH. ADA KALANYA ORANG SUKA BICARA TENTANG HAL YANG TAK PENTING, WALAUPUN PERASANYA SENDIRI MERASA TIDAK BERGUNA. APA HAL YANG MEMICU SIKAP YANG DEMIKIAN. MUNGKIN ANDA LEBIH TAHU,ATAU INGIN TAHU. TAHU ATAU TIDAK,YANG PASTI: TIADANYA KALIMAT ADALAH MATINYA KEADAAN

Pengikut